4 Spot Foto Pre-wed di Kota Tua yang Wajib Dicoba

Dari dulu, kawasan Kota Tua Jakarta sudah jadi incaran buat foto-foto. Soalnya, pemandangan gedung-gedung tua dengan arsitektur khas kolonial Belanda di situ memang keren buat difoto atau dijadikan latar belakang foto. Apalagi, buat foto pre-wed. Soalnya, hampir setiap sudut Kota Tua bisa dimanfaatkan untuk pemotretan dengan konsep apapun. Tapi, dari sekian banyak spot, ada empat spot untuk pemotretan pre-wed di Kota Tua yang wajib dicoba.

Deretan Gedung Tua

Toko Merah, Gedung Putih, dan lain-lain. Kalau mau foto-foto (termasuk foto pre-wed) di depan gedung-gedung ini, kita tidak dikenakan biaya apapun. Cukup melapor dulu ke Unit Pengelola Kawasan Kota Tua sebelum melakukan pemotretan.

Punya konsep foto klasik atau retro, dan butuh properti buat pemotretan? Tidka perlu susah-suah bawa dari rumah. Di sini ada penyewaannya, kok. Misalnya saja sepeda onthel, vespa tua, juga mobil antik. Biaya sewa sepeda onthel sekitar 20 ribu per 30 menit, sementara mobil kuno antara 100 ribu sampai 200 ribu.

Cuma, berhubung kawasan Kota Tua merupakan area publik, kita harus siap mental. Soalnya, pas pemotretan bisa jadi tontonan banyak orang. Makanya kalau mau tidak terlalu banyak yang nontonin, pemotretannya jangan di weekend atau hari libur lainnya.

Cafe Batavia

Tahukah Anda bahwa cafe ini cukup terkenal sekali. Cafe Batavia bertempat di tengah area Kota Tua, lebih tepatnya di Taman Fatahilah, di Jalan Pintu Besar Utara No.14, Jakarta Barat, Café Batavia memang cukup menarik dan unik ketimbang café-café lainnya. Selain eksterior bangunan yang sangat kental dengan arsitektur kolonial Belanda, suasana “kelas atas” tempo dulu juga terasa banget di dalam cafe ini. Furnitur dan ornamen-ornamennya antik-antik, sehingga menambah atmosfer klasik dan mewah.

Spot foto paling menarik di dalam Café Batavia adalah di tangga besar yang dilapisi karpet merah nan mewah. Soalnya, pada bagian mezzanine-nya terpampang foto-foto humaniora yang berbingkai rapih.

Cuma saja, tarif yang dikenakan untuk melakukan pemotretan disini lumayan juga. Sekitar Rp.1.500.000,- untuk satu jam pertama, dan dilanjutkan Rp.1000.000,- untuk jam berikutnya.

Rumah Akar

Awalnya tempat ini dibangun sebagai kantor perniagaan Belanda. Terus, beralih menjadi gereja. Tapi setelah mengalami kebakaran dan atapnya rubuh, bagunan ini dibiarkan begitu saja. Sampai akhirnya ditumbuhi banyak pohon.

Dari luar terlihat akar-akar pohon yang merambat keluar jendela dan menyatu dengan dinding rumah. Meski sepintas kesannya mistis, tapi kondisi itu justru membuat rumah ini jadi terlihat unik.

Kalau masuk ke dalam, kita akan melihat interior yang lebih eksotis lagi. Serasa di tengah hutan! Malah, ruangan utama rumah yang berlokasi di Jalan Kali Besar Timur No.18A, Jakarta Barat, atau tepatnya berada di deretan belakang bangunan Museum Wayang, ini dipenuhi pohon besar yang menjulang ke atas, lengkap dengan rerumputan yang tumbuh secara alami.

Kalau mau pemotretan di sini, kita akan dikenakan tarif sewa rumah sekitar Rp.100.000,- sampai Rp.160.000,- per jam. Tapi, kita harus memerhatikan waktu pengambilan foto. Sebaiknya pas matahari masih bersinar terang. Soalnya cahaya sangat minim kalau sudah sore. Untuk

Jembatan Merah

Letaknya tidak jauh dari Toko Merah. Jembatan ini unik, karena terbuat dari kayu berwarna merah marun. Selain bernama Jembatan Merah, jembatan ini juga dikenal dengan nama Jembatan Kota Intan.

Dulu jembatan yang menghubungkan dua sisi Kali Besar ini berfungsi sebagai penghubung antara benteng Belanda dengan benteng Inggris. Sekaligus berfungsi sebagai jembatan gantung yang bisa diangkat, kalau ada perahu yang mau melintas di bawahnya. Karena warna dan bentuknya yang unik, Jembatan Merah pun jadi salah satu spot menarik untuk foto-foto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *