Menyaksikan Keunikan Adu Jotos ala Kampung Tutubadha

Kampung Tutubadha
Kampung Tutubadha

Siapa bilang kampung adat tidak seru buat dikunjungi. Justru, kampung seperti inilah yang seksi untuk dieksplore. Salah satunya adalah Kampung Tutubadha yang ada di Desa Rendu Tutubhada, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Apanya sih yang unik di kampung adat tersebut. Pertama, bentuk bangunannya yang unik. Bangunan – bangunan di kampung itu memiliki bentuk yang sama dengan bentuk rumah adatnya (Ji Vao). Sa’o Ji Vao pertama kali dibangun pada tahun 1983. “Ji” bermakna kekuatan. Dan “Vao” bermakna naungan. Jadi Ji Vao bermakna rumah tempat bernaung yang di dalamnya ada rasa damai untuk semua penghuninya.

Selain artefak, Kampung Tutubadha juga kaya dengan berbagai situs unik. Salah satunya adalah tinju adat yang disebut Etu. Jangan bayangkan tinju ini mirip tinju yang sering kita lihat di pertandingan televisi atau di atas ring tinju, lho. Namanya saja tinju adat, jadi lebih merupakan pertarungan tradisional yang sarat dengan makna.

Dahulu, kegiatan tersebut dilakukan untuk membuktikan keberaniaan dan kejantanan seseorang. Kalau dia berhasil memenangkan pertandingan, maka ia akan dipandang lebih berwibawa, hebat, dan lebih jantan. Pastinya lebih jantan ketimbang tawuran ataupun adu kekuatan dengan keroyokan.

Salah satu beda yang paling mencolok dari Etu adalah para petarung tidak menggunakan sarung tangan atau sarung tinju, Mereka memakai sabut kelapa atau ijuk yang dililitkan di tangan. Lilitan tersebut disebut kpo atau wholet. Alat tersebut digunakan sebagai senjata untuk melumpuhkan lawan.

Nyanyian Pemberi Semangat
Nah, yang bikin seru para ibu atau wanita juga turun tangan dalam kegiatan tersebut. Mereka biasanya datang sambil bernyanyi untuk memberikan semangat kepada para petarung. Dengan begitu, laga adu kejantanan tersebut menjadi lebih ramai.

Nah, jika keingintahuan mengenai Tutubadha telah dipuaskan, kita bisa mengunjungi obyek Pantai Pasir Putih Nangateke. Selain berenang di laut sambil menikmati alam yang masih asri, kita juga bisa berkeliling dengan perahu nelayan menuju Kecamatan Wolowae di bagian Timur Kota Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo.

Nah, Kecamatan Wolowae yang berlokasi di bagian timur Kota Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo, merupakan pusat ternak sapi berkualitas. Ini disebabkan kecamatan Wolowae memiliki padang savana terluas di Kabupaten Nagekeo. Jadi, kalau mau melihat bagaimana menentukan sapi yang harganya mahal dan banyak dicari orang, datang saja langsung ke kecamatan tersebut.

Selain itu, Wolowae juga merupakan daerah penghasil garam untuk Nusa Tenggara Timur maupun di luar Pulau Flores. Bahkan, garam dari wilayah itu juga dikirim ke Pulau Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *